Media Sosial: Penghubung Dan Pemutus Rasa Sosial?

Oke judulnya resmi sekali.

Anw ini hanya sekedar opini semata, tulisan yang lahir dari kekalutan pikiran yang dihantam sepi berkepanjangan akibat overthinking haha. Jadi jangan terlalu dianggap serius, tapi kalau mau diseriusi juga silakan.

Media Sosial: Penghubung Dan Pemutus Rasa Sosial?

Beberapa waktu lalu saya melakukan satu percobaan  dalam keseharian saya. Mencoba untuk lepas dari media sosial, aplikasi chat maupun beragam hal yang terkoneksi dengan dunia maya (kecuali soal pekerjaan tentunya).

Semua koneksi data dimatikan, mencoba menjalani hidup seperti seharusnya (normalnya kan memang seperti itu :D).

Saya pribadi orang yang tak bisa lepas dari smartphone. Kemana-mana bawa hape, bahkan ke toilet pun rasanya gimana gitu, kalau gak sambil lihat chat, ataupun meingintip celotehan alay teman-teman yang tertuang dalam pembaruan bbm.

Entah itu sekedar like foto atau status, maupun sampai ikut-ikutan iri melihat mereka yang pamer beragam aktivitas wah, ya semacam jalan-jalan ke Bali misalnya haha. Saya bilang ikut-ikutan karena saya yakin banyak juga kok yang merasa hal yang sama.

Tapi gak salah kan, memangnya orang pamer status lagi liburan seperti itu tujuannya apa coba? Saya juga sering begitu kok. Haha, berarti setidaknya saya turut menyukseskan tujuan mereka.

Oke, rasanya sudah melenceng. Saya takkan membahas saling iri atau saling pamer.

pexels-photo

Mari buat hal yang bermanfaat dari media sosial! Sumber: Pexels.com

Kembali ke masalah sosial media, saya pribadi memiliki akun di hampir semua aplikasi sosmed, katakanlah mulai dari Facebook yang sudah bertahun-tahun, sampai aplikasi Path, Line, Whatsapp, Instagram dan banyak lagi.

Setelah ditimbang-timbang dan dipikir-pikir, ternyata saya menghabiskan banyak sekali waktu (selain tidur ya) hanya untuk mengutak-atik gadget, berharap ada yang menghubungi, sekedar menanyakan kabar (ngenes amat sih mas), atau kepoin teman-teman.

Dan waktu yang terbuang itu gak main-main, bisa berjam-jam kalau dihitung-hitung. Waaah… Ada sedikit penyesalan juga sih mengingat kalau seandainya waktu yang terbuang tadi dipakai untuk hal-hal yang lebih bermanfaat.

Terlebih lagi setelah dipikir-pikir, selain untuk sekedar kabar-kabari maupun pamer sana-sini, saya tak menemukan manfaat yang terlampau penting dari beragam media sosial yang saya ikuti tadi. Yah selain mendapat artikel berita maupun beberapa info menarik dari akun yang memang saya gemari.

Eh saya tidak anti sosial ya, sama sekali tidak. Saya juga senang mengetahui kabar dari beberapa teman dekat yang sudah terpisah jarak karena tuntutan pekerjaan atau studi mereka.

Hanya saja prosentase antara bermanfaatnya dengan yang sebaliknya, rasanya kok lebih besar yang sebaliknya. Itu yang menjadi sedikit warning buat saya.

Terlebih melihat beragam orang yang semakin sibuk dengan smartphonenya ketimbang melakukan hubungan secara real dengan orang yang mereka kasihi di sekitar mereka.

Dan itu pula yang coba saya terapkan sekarang, punya media sosial yah wajar-wajar saja tapi kalau itu membuat kita menghabiskan waktu sampai mengabaikan orang-orang terdekat, yah kok rasanya ada yang salah gitu.

So semoga kali ini saya boleh berjalan di jalur yang benar lagi hehehe. Eh kalo kamu, gimana? 😀

Prasetyo

Fotografer yang hobi jalan-jalan, membaca dan menulis! Senang memotret landscape dan human interest, kunjungi galerinya di Instagram

You may also like...

2 Responses

  1. Eodya Semuel says:

    Kak ada typo. He he (saya berpikir 3 jam untuk menulis komentar ini)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *